Senin, 31 Juli 2017

ELIZA04 : DIRUMAH JENNY PART02

Di Rumah Jenny

Kami tiba di rumah Jenny sekitar jam tiga sore. Jenny menekan bel pintu rumahnya, dan tak lama kemudian seorang pria yang mirip tengkorak hidup sangking kurusnya, muncul dari dalam dan membuka pintu untuk kami. “Pak, papa mama ada?”, tanya Jenny ketika pintu rumahnya itu sudah terbuka. “Baru pergi semua non”, jawab orang itu cepat. “Ke mana?”, tanya Jenny lagi. “Katanya tadi mengantar Denny ke dokter gigi”, jawab si tengkorak hidup itu. “O… ya udah makasih pak”, kata Jenny yang lalu mengajakku masuk ke dalam.


Ketika kami sedang melepas sepatu dan kaus kaki, Jenny tertawa dan bercerita padaku, tadi sebelum pergi ke sekolah, ia melihat adiknya menangis sambil memegangi pipinya. “Ih… kok diketawain sih? Kan kasian sakit gigi gitu”, aku mengomel pada Jenny. “Habis tadi itu tampang adikku lucu sekali deh. Eh Eliza, sambil menunggu mereka pulang, kita nyantai di kamarku yuk!”, ajak Jenny sambil menggandeng tanganku. Aku menurut saja, dan sesaat kemudian kami sudah asyik di dalam kamar Jenny.


Musik kesukaan Jenny yang kebetulan juga kesukaanku mengalun lembut. Sambil melihat lihat koleksi CD lagu milik Jenny, beberapa kali aku dan Jenny mengobrol tentang lagu favorit dan artis penyanyi kesukaan kami masing masing. Jenny sedang bersantai di ranjangnya sambil membaca majalah, ketika aku merasa ingin buang air besar. “Jen… aku mesti ke WC nih”, aku mengeluh pada Jenny “Ya udah ke sana aja, kamu udah tau tempatnya kan” kata Jenny santai. Aku mengangguk dan segera pergi ke WC yang letaknya tak jauh dari kamar Jenny ini. “Eliza, nanti kamu tunggu di kamarku ya. Aku mau beres beres rumah dulu, hari ini kebetulan pembantu di rumahku lagi pulang nih”, tiba tiba aku mendengar suara Jenny selagi aku masih ada di dalam kamar mandi ini. “Iya Jen”, jawabku dengan suara yang cukup keras untuk memastikan Jenny mendengar jawabanku.


Setelah aku selesai buang air, aku segera kembali ke kamar Jenny, dan melanjutkan melihat lihat koleksi CD lagunya. Aku begitu asyik memilih milih koleksi Jenny itu ketika tiba tiba jam dinding di kamar Jenny berbunyi menunjukkan pukul 16:00. Tiba tiba aku jadi merasa nggak enak. Masa aku diam saja bersantai santai di dalam kamarnya Jenny, sementara Jenny lagi bersih bersih rumah? Maka aku keluar mencari Jenny untuk membantunya. Selain itu nggak enak juga kan ditinggalkan sendiri di kamar orang lain seperti ini?Aku mencari Jenny di semua ruangan rumahnya yang besar ini, cukup lama, tapi tak kunjung menemukan Jenny.



Ia seperti menghilang saja. Aku melihat toilet, kosong. Mau membuka kamar adiknya atau ortunya, segan juga. Kucari dia di ruang makan dan beberapa ruangan lain yang sekiranya tak ada unsur privacy, juga tak ada. Kini tinggal sebuah ruangan, yang dari dalamnya kudengar ada suara yang cukup gaduh. Aku berpikir, mungkin saja Jenny ada di dalam sana, sedang melihat pekerjaan para buruh sandal itu. Orang tuanya Jenny memang membuka usaha produksi sandal jepit di rumah, dan jam kerjanya antara jam delapan pagi sampai jam enam malam. Aku pernah melihat mereka. Ada lima orang yang bekerja di belakang sana. Aku ingat dua orang di antara mereka tubuhnya tinggi besar dan kekar, mungkin tinggi mereka hampir 185 cm. Mereka berdua itu adalah Supri dan Umar.


Aku mengetahui nama mereka berdua ini waktu papanya Jenny memanggil mereka untuk bantu mengangkat sebuah mesin, entah mesin apa, ke sebuah mobil pickup. Kulit mereka berdua ini sama sama begitu hitamnya. Bau badan mereka nggak usah ditanya lagi, sama memusingkannya deh dengan bau tiga pejantan di rumahku kalau mereka lagi keringatan. Dan wajah mereka berdua ini, ampun deh, benar benar kacau. Wajah Supri itu agak mengerikan, dengan penuh bopeng di hampir seluruh wajahnya yang memang sudah amat jelek itu, jadi sebenarnya bopeng bopeng ini cuma membuat wajah Supri ini sedikit lebih jelek saja. Bisa kan bayangkan betapa amburadulnya? Dan tentang Umar, kira kira monyongnya mulutnya itu membuatnya mirip monyet kali. Kulit wajahnya juga bopeng, tapi tak sampai separah Supri.


Walau begitu, hal ini tak menolong sama sekali, tetap saja wajah itu begitu jelek di mataku, benar benar nggak penting untuk dilihat deh. Dan tiga rekannya yang lain aku juga pernah melihat. Aku tak tahu nama mereka, tapi yang jelas wajah mereka bertiga ini tak lebih baik dari kedua orang yang kutahu namanya ini. Ada yang giginya tongos, mirip Boneng, cuma yang ini lebih parah kali ya. Tubuhnya tak begitu besar, juga tidak tinggi, tapi bulu bulu badannya amat lebat menjijikkan seperti gorilla saja. Yang satunya lagi, rambutnya gundul plontos, bibirnya seperti sumbing. Gendut lagi, perutnya buncit juga. Aduh… orang ini kalau berjalan, perutnya bergoyang goyang seperti sebuah kantung lemak yang diayun ayunkan, mengerikan lah pokoknya. Lalu, orang yang terakhir ini tak kurang ‘spektakuler’. Kontras dengan si gendut tadi, orang ini bertubuh amat kerempeng, tulang tulangnya seperti menonjol menegaskan kekurusannya, sekilas terlihat seperti sudah tua dan penyakitan.

Padahal menurut Jenny orang itu usianya baru 32 taun, tapi menurutku orang itu terlihat seperti sudah umur 45 taun lebih gitu. Sudah begitu sama plontosnya, tapi kumisnya tebal sekali. Kedua matanya amat besar, kalau dilihat lihat lagi, sekilas mirip tengkorak hidup berkumis. Aku sering merasa tak nyaman jika berada di sekitar mereka. Pernah aku diajak ortu Jenny melihat lihat tempat produksi sandal di belakang rumah ini, setelah aku diberi sepasang sandal fashion dari salah satu produknya. Aku terpaksa ikut melihat lihat, nggak enak kan kalo nggak ikut? Dan waktu di tempat produksi itu, kurasakan tatapan mata mereka berlima itu, penuh nafsu, seolah ingin menelanjangiku. Risih sekali rasanya dipandangi oleh mereka. Dan aku teringat tadi, si tengkorak hidup yang membuka pintu ketika kami pulang tadi, ia sempat menatapku dan Jenny seperti akan menelan kami berdua bulat bulat, sementara Jenny sempat terlihat agak canggung juga.


BERSAMBUNG YA GUYS